Rainbow Roses

in Holland...

The Ring...

Bismillah...

Mount Titlis...

in the Urner Alps of Switzerland

Brussel...

in Belgium

The first picture I took...

Amsterdam Central

Sunday, May 1, 2016

What a Life!

Yak, saya sadar ketika memposting segala sesuatunya di facebook, twitter, atau path, itu merupakan ruang publik yang dapat mengganggu ketenangan pihak-pihak yang terlalu malas untuk mencari tahu bagaimana meng-hide postingan orang lain sehingga tidak perlu dibaca. Maka saya putuskan untuk menuangkan pemikiran saya di situs saya sendiri, dimana ketika saat ini Anda membacanya, itu adalah resiko Anda, karena Anda mengunjungi situs saya~ 😏

Okay, uneg-uneg yang ingin saya bagikan saat ini adalah terkait masalah pasangan hidup. What? Ya. Pasangan hidup. Namun lebih tepatnya kriteria pasangan hidup berdasarkan pendapat orang lain. 

Ketika seorang wanita sudah memasuki usia tertentu, ia akan berada pada masa dimana banyak orang lain yang mulai ikut campur dan memberi dakwah, ceramah, etc you name it. 
Beberapa ada yang memberi masukan mungkin karena memang care, namun ada juga yang just saying saja.
Hal yang menggelitik buat saya adalah terkait komentar orang mengenai kritikan atas gaya hidup, atau penampilan yang dianggap dapat membuat pria menjadi takut untuk mendekati. Saya pernah berada pada masa dimana I really took those stuffs seriously. Well, namun untungnya penikiran saya mulai bergeser. 
Daripada fokus merubah pribadi yang "dianggap menakutkan", mengapa pernyataannya tidak saya balik saja. 
Jika mencari wanita dengan penampilan gembel, jangan cari saya, begitu saja. Sadis ya? Iya sadis. Sama sadisnya dengan pernyataan tadi yang membuat seorang wanita yang menjaga penampilannya malah menjadi merasa bersalah dan menyesal, serta merusak kebahagiaan yang sudah ada.

Selain komentar dan kritikan yang tadi, masih ditambah fatwa bahwa penampilan yang terlalu rapi dan modis, serta kebiasaan makan di tempat-tempat tertentu, membuat pria yang mendekat menjadi merasa takut.
Hal ini juga sempat membuat saya menjadi khawatir tidak berani terlihat jalan-jalan kesana kemari yang padahal menggunakan penghasilan saya sendiri, dengan kompensasi yang juga tidak diberikan oleh para kritikus. Mereka hanya mengeritik, namun apa? Ketika weekend mereka tidak menemani. Jadi saya tidak boleh keluar-keluar, hanya diam di rumah? Atau ke warteg sendirian, gitu? Dengan kata lain, sudah capek-capek bekerja, namun tidak boleh menikmati penghasilan hanya karena alasan yang tidak masuk akal?
Lalu saya pun sekali lagi berpikir, mengapa pernyataan tadi juga tidak dibalik, apakah wanita juga mencari pasangan hidup yang ketika hanya terkait untuk urusan pakaian rapi, dan jalan-jalan cari makan keluar saja takut tidak mampu membiayai? Sadis? Iya sekali lagi memang sadis sama seperti ucapan intimidasi yang tadi.

Dan terbukti memang seleksi alam yang bekerja,
yang mendekati memang jadinya ya pria-pria yang tidak takut dengan hal-hal sepele semacam tadi. 
Kalau memaksa diri berubah hanya untuk dicintai, menurut saya itu menyedihkan.
Perubahan untuk menjadi lebih baik, saya setuju. Tapi hanya untuk dicintai? Buat apa.

Maaf kalau postingan kali ini edisi curhatan seperti luapan yang sudah menumpuk. Karena logika saja, siapa sih yang mau melajang lama-lama. Dengan usia yang selalu bertambah, jangan tambah penderitaan orang lain. Jalan hidup orang berbeda-beda, namun apakah lantas perbedaan ini membuat orang menjadi tidak bahagia?

Love our life.
Salam.